Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2017

Siswa didik di antara ambisi orangtua dan pelatih




Bismillah ar-rohmaan ar-rohiim

Beberapa kali belakangan ini saya sering diajak berdiskusi dengan banyak orangtua murid yang rata-rata mengeluhkan performa anak-anaknya yang menurun saat kejuaraan. Sebelumnya mereka, sang anak, langganan juara 1, medali emas, kini malah menurun dan tak jarang kalah sejak babak penyisihan. Sementara latihan didalam klubnya, di timnya tetap rajin, tetap semangat dan tak mengeluh meski harus pulang malam dengan jadwal seminggu sampai 3 atau 4 kali.

Mendengar ini saya hanya mampu tersenyum karena sebenarnya ini fenomena umum di kalangan "atlet" banyak klub dolahraga di Indonesia terutama yang berorientasi pada prestasi dan medali. Baiklah mari kita coba pahami permasalahannya, menurut sudut pandang saya selaku pelatih beladiri yang sudah duapuluhan tahun melatih semua tingkatan usia, sejak usia TK sampai mahasiswa.

Dari banyak pertanyaan yang keluar dari para ortu tersebut sebenarnya sudah ada jawabannya sendiri, hanya saja kita, terkadang lebih memilih menegasikan kenyataan, tanda-tanda jelas yang terlihat di depan mata. Mari kita lihat satu persatu.

Pertama, harus dipahami bahwa tidak semua tingkatan latihan harus berorientasi kepada prestasi.
Ya memang benar sekarang banyak sekali kejuaraan tingkat pemula, hingga terakhir saya lihat video anak-anak usia TK berlaga dalam kejuaraan.
Lucu sih, bahkan mungkin kita juga berpedapat ini baik untuk perkembangan mental anak-anak ke depannya.
Oke, saya setuju.! Tapi itukan jawaban dari orangtua dan atau pelatihnya, apakah sudah pernah ditanyakan pada anaknya langsung baik sebelum maupun sesudah pertandingan?
Saya setuju semangat bersaing akan meningkatkan kewaspadaan dan kemandirian seorang anak tetapi apakah semua dalam satu tim dan satu tingkatan usia bisa diikutsertakan?
Maka izinkan saya bertanya, ketika orangtua dan atau pelatih mengijinkan anak dan siswanya ikut kejuaraan sebenarnya itu keinginan siapa, keinginan orangtua untuk membanggakan anak-anaknya di depan orangtua lainnya atau keinginan pelatih yang haus gelar dan ingin mendapatkan kredit dari hasil perjuangan murid-muridnya?
Coba jawab jujur.
Jika jawabannya tidak, karena semua keinginan anaknya, kemauan siswa didiknya maka akan timbul pertanyaan kedua yang menjadi poin kedua.

Kedua, seberapa sering dalam satu tahun semestinya sebuah klub, seorang atlet mengikuti kejuaraan?
Pertanyaan ini penting dijawab karena akan mengindikasikan sebarapa baik seorang pelatih menyusun program yang tepat bagi anak didiknya. Pendapat pribadi saya, meski klub kita didominasi oleh juara dunia sekalipun, mereka tetap harus punya program yang jelas dalam satu tahunnya, kejuaraan apa saja yang akan diikuti, berapa bulan jarak jeda antar kejuaraan untuk diikuti, berapa orang yang pantas untuk diikutsertakan dan berapa penting sebuah kejuaraan untuk diikuti?
Jika sebuah klub mengikuti kejuaraan hampir dua bulan sekali dengan anggota tim yang itu-itu saja, maka jangan aneh jika kemudian banyak yang cedera kemudian dalam dua tahun terakhir akan banyak yang mengundurkan diri, terutama siswa didiknya yang berusia  kadet dan junior.
Ketahuilah, anak-anak usia SD dan SMP sangat mudah didera rasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosan tanpa harus menghilangkan ego pelatih dalam kejuaraan maka haruslah pelatih mengetahui bobot kejuaraan yang diikuti.
Jika awalnya ikut dalam kejuaraan pemula yang semua dapat medali maka setelah dua tiga kali coba harus ditingkatkan kepada kejuaraan yang lebih serius, kelas prestasi. Setelah mapan di kelas prestasi, maka ikutsertakan di kejuaraan seleksi tingkat cabang, daerah hingga mampu seleksi nasional.
Lalu upayakan jangan ikut kejuaraan di daerah yang sama, alias di situ-situ aja, sama dia-dia lagi lawannya. Pelatih dan orangtua harus berani ajak siswanya keluar daerah atau bahkan ke luar negeri untuk bertanding. Ini namanya mencari pengalaman yang benar, tidak itu-itu saja dan dia-dia lagi.

Ketiga, jika kemudian kita lihat sang anak rajin sekali ikut latihan bahkan sampai malam, tetapi prestasinya biasa-biasa saja, pernahkah kita sadari bahwa mungkin saja anak ini memang ingin berlatih untuk mencari teman, bersosialisasi, gaul bukan untuk mencari prestasi. Jangan salahkan anak jika tak pernah jadi juara satu, membawa pulang medali emas, karena memang bukan itu tujuan dia berlatih, dia hanya berlatih karena hobbi dan ingin berteman.

Keempat, Jika semua kita pikir sudah fix anak ini akan menang dan berjiwa pemenang, tetapi pada saat kejuaraan malah melempem, saya curiga, jangan-jangan ada salah kata, ada salah ucap yang dikeluarkan oleh orangtua yang membuat sang anak tak bersemangat lagi atau tidak fokus pada kejuaraannya.

Sekali lagi saya bertanya, sebenarnya yang ingin tanding anaknya atau orangtuanya, kok orangtuanya yang semangat sementara anaknya biasa-biasa saja? Pernah bahkan saya lihat ada atlet yang ditampar dan disiram Aqua oleh bapaknya karena kalah pada kejuaraan oleh atlet yang levelnya di abawah sang anak.
Sebenarnya yang ingin tanding pelatihnya atau atletnya? Kok ya tiap bulan semua kejuaraan dia ada dan aktif? Oke jika atletnya ganti-ganti. Jika tidak? Stok atletnya hanya bebrapa saja dan terus diforsir untuk meraiih medali, lantas wajarkah jika timnya mengalami kejenuhan?

Tulisan ini saya buat disela-sela perjalanan ketempat latihan jadi mohon maaf jika ada banyak salah ketik. Insya Allah akan saya lanjutkan dalam dua tiga hari kedepan.

Rabu, 29 November 2017

Penyematan Sabuk Hitam Hapkido Banten 12 November 2017

Penyematan Sabuk Hitam Peserta Ujian DAN Hapkido Banten 12 November 2017


Kunci Menuju Ahli : Disiplin.!

Suatu waktu seorang anak dan dan ayahnya pergi ke tanah lapang untuk bermain layang-layang. Anak kecil ini kemudian berkata
"Ayah, benang layangannya jelek, layangannya jadi tak bisa terbang tinggi"
Sang ayah membalas
"Nak, benang itu tak sedikitpun menahan layangan untuk terbang tinggi. Bahkan satu-satunya alasan layanganmu bisa terbang dengan indah adalah karena memiliki benang. Coba kamu gunting benangnya, layanganmu tak akan mampu terbang tinggi, tetapi jatuh dan terkapar di tanah"


Dari cerita di atas, ada pelajaran hidup yang sangat berharga. Benang layangan menggambarkan DISIPLIN,  yang tanpanya tak akan layangan-layang terbang indah, tanpa disiplin tak akan cita-cita tercapai.

Kebanyakan dari kita memulai sesuatu dengan semangat, bangun pagi dengan gembira, tapi seiring berjalannya waktu, saat tiba waktu makan siang tiba-tiba rasa malas hinggap dan seketika hilang keinginan untuk menggapai apa yang dicita-citakan, hilang keinginan untuk terus bekerja sambil berandai sekiranya setelah istirahat makan siang langsung pulang kerumah.

Maka, ketika kita mengerjakan sesuatu, kerjakanlah dengan komitmen yang tinggi, penuh dedikasi dan disiplin ketat.Banyak dari orang-orang sukses yang kita jumpai adalah orang-orang dengan disiplin yang tinggi. Hidupnya sangat sistematis, capaian dan targetnya mereka mampu penuhi sesuai rencana. Sementara manusia yang tak disiplin hanyalah budak angan-angan dan bermalas-malasan. Mimpinya besar tapi usahanya kecil.

"Yang membuat kita bangun dari tempat tidur, wilayah nyaman, adalah KARAKTER, yang menggerakkan kita mewujudkan cita-cita adalah KOMITMEN, yang membuat kita menempuh badai tanpa keluhan adalah DISIPLIN"

Jika anda bukanlah orang yang berdisiplin, tak masalah, jangan takut, belum terlambat, lupakan masa lalu. Hari ini tulis tujuan anda, kejar dengan kedisiplinan tinggi, lakukan semuanya step by step, sistematis dan di luar kebiasaan kebanyakan orang.

Ingat
"Disiplin adalah jembatan antara cita-cita dan pencapaian"

Selamat atas pencapaiannya, murid-muridku, Adam Putra Firdaus, Abidzar Elghiffary, Jayanti Setiawati dan Muhammad Rizal Effendi. Sabuk hitam bukanlah akhir, tapi awal dari perjalanan panjangmu di Hapkido. Sabum selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. 


Kamis, 21 Mei 2015


Bismillah,

Kembali saya tulis tentang poomsae, bukan karena saya paling tahu tapi karena memang saya tahunya hanya ini saja. Hahaha. Dan kali ini kembali saya menulis berdasarkan pertanyaan atau pun pernyataan yang ditujukan pada saya.

Tak dipungkiri, sejak sudah resmi dipertandingkan dalam berbagai kejuaraan di berbagai tingkat, poomsae seakan menjadi magnet baru bagi banyak praktisi taekwondo di dunia. Poomsae bagaikan gadis manis yang layak untuk diperebutkan oleh banyak lelaki.

Tapi di satu sisi, karena kehadirannya yang relatif masih baru, tidak seperti nomer Kata atau jurus dalam Karate, maka tanggapan dan apresiasi yang diberikan oleh banyak praktisi taekwondo pun berbeda-berbeda. Tapi kita di sini tidak akan membahas tanggapan tentan kehadiran poomsae sebagai nomer baru dalam pertandingan. 

Beberapa pelatih ada yang bertanya pada saya bagaimana caranya supaya melatih poomsae tidak membosankan. Terkadang hanya senyuman yang saya berikan, karena selama saya melatih dan fokus di poomsaae sepertinya selalu ada hal baru tentang ini.

Kebosanan hadir karena pola rutinitas yang selalu diulang-ulang. Kebosanan juga bisa hadir karena kurangnya kreatifitas yang dimiliki pelatih dalam membangun pola latihan. Seperti tulisan pertama saya pagi hari kemarin tentang tips melatih poomsae. Jika ingin sedikit lebih rinci, justru teknik yang mesti diajarkan pada atlet poomsae lebih banyak dan lebih rumit dibanding atlet kyorukgi.

Bayangkan, untuk teknik dasarnya saja seorang atlet poomsae harus menguasai 5 teknik dasar dalam taekwondo yaitu Seogi (kuda-kuda), Makki (tangkisan), Chagi (tendangan), Chigi (sabetan), Chireugi (sabetan). Lalu jika dijabarkan ada berapa seogi yang harus dikuasai, ada berapa chagi yang harus dipelajari, ada berapa tenik makki yang harus difahami, maka akan hadir puluhan mungkin ratusan teknik dari mulai Taegeuk 1 sampai Il Yeo yang harus dikuasai atlet maupun pelatih poomsae?

Itu baru tekniknya saja, belum menyangkut bagaima performa seorang atlet dalam melakukan teknik tersebut. Misal, dalam momtomg jireugi (pukulan ke arah badan) ada berapa gaya yang bekerja dalam pukulan tersebut, lalu bagaimana perputaran kepalan tangan hingga mencapai targetnya, kemudian darimana awal datangnya pukulan ke arah badan? Dan lain sebagainya.

Jika untuk satu teknik saja butuh banyak jawaban dan butuh kedalaman pemahaman, bagaimana dengan puluhan teknik lainnya yang belum dikuasai? Ingat, poomsae bukan soal hafal, karena semua taekwondoin hafal poomsae. Tapi poomsae adalah tentang bagaimana kita menyajikan seni di depan wasit hingga dilihat menjadi gerakan yang paling enak dilihat.

Semua pasti kenal dengan sayur asem. Semua tahu bahan-banhan pembuatannya. Tapi jika bahan-bahan yang sama diberikan kepada orang yang berbeda pasti hasil rasanya pun berbeda sesuai selera dan kemampuan memasaknya. Itulah poomsae.! Jadi, kebosanan hanya hadir karena kurangnya kreatifitas. Kebosanan akan hadir jika atletnya tidak latihan bersama hatinya. Kebosanan bisa hadir jika tidak baik komunikasi antar elemen yang tersangkut di dalamnya.

Jadi sebenarnya bukan poomsaenya yang membosankan, tetapi ilmunya yang terbatas dan kekurangan. Itulah mengapa, banyak pelatih yang agak malas melatih poomsae, karena harus kembali melatih kuda-kudanya, harus kembali melatih pukulan dasarnya, dan sebagainya seperti layaknya penyandang sabuk putih yang baru masuk latihan.

Sekali lagi ingat ini, JANGAN LATIHAN POOMSAE KETIKA INGIN MENDALAMI POOMSAE. Tapi latihlah jireugi, chagi, chigi, makki dan seogi. Lalu latihlah hal-hal yang berkaitan erat dengan performamu melakukan semua teknik di atas, agar "sayur asemnya" menjadi sayur asem paling enak bagi wasit.

Terimakasih
(Jangan tanyakan saya bagaiman membuat sayur asem, saya hanya bisa makan, bukan masak)

Rabu, 20 Mei 2015

Asah kemampuan dan Bakat Anak-anak Kita

Wahai orangtua,
Ketahuilah,
Anakmu bukanlah milikmu
Anakmu adalah milik zamannya masing-masing
Mereka adalah amanah dari Tuhan yang Maha Esa
Amanah agar kelak jika ditinggalkan tidak menjadi generasi yang lemah
Amanah yang menguji seberapa kuat keimanan dan tanggung jawab kita
Jangan tinggalkan generasi yang lemah di belakang kita
Beladiri, apapun jenisnya adalah salah satu jawabannya
Bukankah Rasul Muhammad SAW telah bersabda
"Ajarkanlah anak-anakmu berenang, berkuda dan memanah"
Bukankah dahulu Rasulullah adalah seorang jago gulat
Bahkan beliau pernah mengalahkan seorang juara gulat dari Madinah yang badannya dua kali lebih besar dari beliau?
Dan beliau pun pernah bersabda
"Jangan tinggalkan generasi yang lemah di belakang kalian"
Beladiri adalah jawabannya
Beladiri adalah sunnahnya
"Karena Allah lebih menyukai mukmin yang kuat dari pada mukmin yang lemah"
Dalam beladiri, kita diajarkan untuk disiplin
Bukankah sholat harus tepat waktu?
Bukankah Mengerjakan PR harus tepat waktu?
Dalam beladiri, Kita diajarkan hidup sehat
Bukankah untuk sholat khusyu butuh badan yang sehat?
Bukankah sekolah tiap hari butuh stamina yang kuat?
Dalam beladiri kita diajarkan filosofi
melihat permasalahn lebih mendalam
Lebih bersabar menunggu hikmah daripada tergesa mendapatkan hasilnya.
Bukankah dalam hidup kita harus memilik pandangan?
Bukankah kita diciptakan untuk menyembah-NYA?

Jika hari ini, kita memiliki dua motor dan satu mobil
Lalu ayah merokok sehari sebungkus
Atau sang bunda memiliki tas merek Hermes yang bergegsi
Lalu anak-anak kita dibekali hand phone diatas dua jutaan
Lantas apa yang menghalangi kita untuk mengeluarkan biaya demi kesehatan, kedisiplinan dan kekuatan anak-anak kita di masa depan?

Mulailah berlatih beladiri,
Mulailah melatih disiplin dalam keluarga dan diri sendiri

Mulailah hari ini

Sambangi dan dekati unit latihan serta para pelatih beladiri

Anak-anak saya,
Alhamdulillah, sudah puluhan piala dan medali mereka kumpulkan sejak masih TK
Sudah juara Antar Klub se-Asia
Berkali-kali juara daerah,
Bahkan mengalahkan seniornya
Dan alhamdulillah
Tak berkurang semangat sholat berjamaahnya
Hafal juz 30 dan 29
Dan yang paling penting
Belum pernah sakit keras hingga harus dirawat lama

Mari, tinggalkan warusan yang bermakna
Yang jauh lebih mahal daripada uang dan harta
Disiplin dan kekuatan jiwa
Adalah segalanya